Guru IPA Hendaknya Berwawasan SETS

Dewasa ini, sadar atau tidak kita telah berada dalam era baru yang disebut era teknologi dan informasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, telah menimbulkan perubahan dahsyat dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan kompleksitas yang kian meninggi. Pada salah satu sisi, lingkungan bergerak dan berubah secara cepat dan dinamis. Informasi menyebar sangat cepat dan telah melampaui batas-batas negara melalui jaringan networking.

Kompetisi di bidang politik, ekonomi dan bisnis pun semakin tinggi dan sulit dibendung. Pada sisi lain, perubahan tersebut telah mempengaruhi dan mengubah berbagai macam aturan dan pranata sosial yang telah ada.

Untuk mengimbangi revolusi teknologi dan informasi tersebut, harus segera dilakukan perubahan secara radikal sistem pendidikan kita. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses pengembangan kepribadian, harkat, dan kemampuan manusia untuk menjadi lebih berkualitas sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar seorang guru harus dapat mengarahkan siswa untuk dapat menjelajahi seluruh dunia pengalaman dan pengetahuan sehingga siswa dapat belajar tentang cara belajar, cara berpikir, dan cara mengelola masa depan diri sendiri. Untuk itu seorang guru harus meninggalkan cara dan metode belajar mengajar tradisional. Mereka harus dapat mengintegrasikan berbagai macam informasi dan pengalaman bagi siswa dalam rangka menyiapkan masa depannya.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan ini biasanya diikuti dengan perkembangan teknologi, dan perkembangan teknologi juga biasanya membawa dampak bagi kehidupan masyarakat dan perubahan lingkungan. Oleh karena itu, mata pelajaran IPA sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi, pengajarannya harus lebih menekankan kepada keterkaitan antara elemen-elemen yang ada dalam konsep IPA itu sendiri, yang meliputi: elemen lingkungan, teknologi dan masyarakat, sehingga pemehaman-pemehaman siswa terhadap IPA tidak lai terkotak-kotak seperti yang terjadi selaman ini. Dan model pembelajaran IPA berwawasan SETS adalah solusi yang ditawarkan oleh KTSP.

Model Pembelajaran IPA berwawasan SETS

Model pembelajaran IPA berwawasan SETS adalah suatu model pembelajaran IPA yang menghubung-kaitkan antara konsep yang sedang dipelajari dengan elemen-elemen lingkungan, teknologi dan masyarakat. Model pembelajaran ini memiliki landasan filosofis untuk membawa siswa memiliki wawasan terbuka dan memandang sains atau IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan (Binadja, 2000), karena pada dasarnya dalam kehidupan manusia, elemen-elemen tersebut sebenarnya saling terkait. Urutan akronim SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S) perlu dipikirkan berbagai implikasinya pada lingkungan (E) baik lingkungan fisik maupun mental. Belajar IPA (Science) hakikatnya belajar tentang fenomena-fenomane alam yang terjadi di sekitar kita. Dimulai menganggap aneh atau mempertanyakan suatu fenomena yang ada dilingkungan sekitar kita (evironmental), dilanjutkan dengan penciptaan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk pertanyaan yang dimaksud dan menguji jawaban-jawaban mana yang memiliki alasan kuat dan dapat diterima. Selanjutnya, teknologi (Technology) secara sederhana diartikan sebabagi belajar memanipulasi alam untuk manfaat atau keuntungan pribadi, dimana manusia sebenarnya telah melakukannya sejak awal keberadaannya. Sedangkan kehidupan manusia dalam masyarakat (Society) dimulai dengan pandangan bahwa tidak seorang pun yang dapat memisahkan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, adalah aneh bila dalam pembelajaran IPA, kita hanya memberikan penekanan pada konsep tanpa menghubung-kaitkan dengan elemen-elemen lain selain SETS.

Atas dasar keterkaitan antar elemen-elemen dalam sains tersebut, maka seorang guru dalam pembelajaran IPA sedapat mungkin harus dapat menghubung-kaitkan antara elemen-elemen yang terdapat dalam SETS. Dengan menghubung-kaitkan elemen-elemen dalam sians tersebut, maka beberapa keuntungan akan diperoleh antara lain: Pertama, melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif dan inofatif yang ditopang dengan kearifan dalam perkembangan penalaran meraka. Kedua, model pembelajaran ini membimbing siswa untuk berpikir secara global dan berpartisipasi memecahkan masalah lokal maupun global sesuai dengan kapasitasnya (thinking globally and acting locally). Ketiga, membiasakan siswa untuk selalu berpikir tentang suatu sebab dan akibat yang ditimbulkan dari sebab tersebut (causalities). Di samping itu, model pembelajaran ini akan dapat meningkatkan minat, motivasi dan perhatian siswa, serta dapat meningkatkan selera belajar siswa karena banyak pengetahuan yang di dapat.

Adapun penerapannya dilakukan dengan cara mengajak siswa untuk melihat dan mendiskusi tentang berbagai sisi dari pengetahuan atau konsep yang dipelajari. Tentunya tetap mengajarkan IPA sembari membawa siswa pada situasi untuk memanfaatkan konsep IPA ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat. Melihat kemungkinan penggunaan konsep tersebut di masyarakat; teknologi yang mungkin dapat dikembangkan; teknologi yang telah menggunakan prinsip atau konsep tersebut. Serta melihat keuntungan dan kerugian memperlajari konsep tersebut; dampak positif dan negatif yang mungkin ditimbulkan dari konsep tersebut; kemudian siswa dibawa untuk mencari alternatif pemikiran untuk mengurangi atau mencegah dampak negatif tersebut terhadap lingkungan dan masyarakat dan lain sebagainya. Dengan demikian, secara tidak langsung model pembelajaran ini akan membangun pengetahuan baru siswa yang dibentuk dari pengalaman faktual serta akan terbiasa menganalisis tentang suatu dari berbagai sudut pandang. Ini sangat sukar diperoleh bila siswa hanya difokuskan pada konsep-konsep baku pada saat mempelajari materi. Di samping itu, sebagai guru madrasah, tentunya kita juga perlu menambah filosofi baru di dalamnya yakni dengan menghubung-kaitkan agama dalam kaitan SETS. Ini sesuai dengan salah satu tujuan pembelajaran IPA yang tercantum dalam GBPP yaitu meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kebanggaan nasional, dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Implementasi di Kelas

Untuk dapat memiliki kemampuan menghubung-kaitkan antara topik-topik dalam IPA yan dipelajari dalam unsur SETS, seorang guru IPA harus memiliki kepekaan terhadap fenomena-fenomena alam yang sering terjadi di sekitar kita. Perlu diingat, bahwa timbulnya sebuah konsep atau teori-teori yang dipelajari dalam bidang studi IPA sebenarnya berawal dari fenomena alam yang ada di sekitar kita, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber belajar siswa. Sudah seharusnya seorang guru IPA mengerti dan memahami hakikat mempelajari IPA, memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga dapat menentukan startegi dan metode pembelajaran yang cocok bagi siswa. Keluasan pengetahuan dan pemahaman ini, juga amat dibutuhkan untuk dapat menganalisa konsep-konsep yang akan diajarkan kepada siswa dari berbagai aspek.

Beberapa pertanyaan minimal yang perlu disampaikan kepada siswa sehubungan dengan penggunaan model pembelajaran IPA berwawasan SETS, antara lain: apa kegunaan konsep tersebut masyarakat? Apakah konsep tersebut dapat dikembangkan ke dalam bentuk teknologi? Adakah akibat dari pengembangan konsep tersebut ke dalam bentuk teknologi? Teknologi apa yang mungkin dapat dibuatatau berkaitan dengan konsep tersebut? Bagaimana kesan masyarakat terhadap teknologi yang dikembangkan dari konsep tersebut? Adakah dampak yang ditimbulkan dari teknologi tersebut terhadap lingkungan? Bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan alam? Bagaimana masyarakat secara langsung mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi? Dan lain sebagainya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu disiapkan oleh guru IPA untuk didiskusikan dan dicarikan jawabannya bersama-sama dengan siswa dalam rangka mengeksplore pengetahuan siswa dan digunakan untuk mengkonsidikan siswa agar mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi (sederhana atau lebih rumit tergantung pada jenjang pendidikannya) dan diikuti dengan pemikiran untuk mengurangi atau mencegah kemungkinan dampak negatif yang mungkin timbul dari munculnya produk teknologi ini terhadap lingkungan dan masyarakat.

About sainsmediaku
Guru IPA MTs. Negeri Slawi Kab. Tegal, Lahir di Tegal, 20 Mei 1967

One Response to Guru IPA Hendaknya Berwawasan SETS

  1. samsudin says:

    bagus … tingkatkan page rank blogmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: