Berpikir Positif Tentang Siswa Kita

Malas, suka rame, susah diatur, tidak bersemangat, malas belajar, kurang termotivasi, rendah prestasi dan lain sebagainya. Itulah yang sering dikeluhkan para guru menanggapi sikap siswa-siswinya dalam kegiatan pembelajaran. Cenderung lebih menyalahkan siswa dibanding mengoreksi diri. Padahal, siswa datang ke sekolah karena ingin belajar, karena ingin pintar. Mengapa semua itu terjadi, sebenarnya karena kita, para guru.

Pernahkah terbersit dalam otak anda bahwa apa yang anda pikirkan atau harapkan terjadi, seringkali benar-benar menjadi kenyataan? Itulah kenyataan yang kita hadapi tentang siswa-siswi kita, malas belajar, kurang termotivasi dan rendah prestasi. Itu semua berawal dari sikap kita dan harapan kita terhadap siswa-siswi. Bila kita akan masuk ke dalam kelas yang sebagian besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan tinggi, cenderung bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula terhadap anak-anaknya. Sementara ketika akan masuk ke dalam kelas yang mayoritas siswanya memiliki kecerdasan rendah maka guru pun akan cenderung memiliki harapan yang rendah pula. Sikap dan harapan ini akan berdampak pada “semangat” dan sikap kita dalam mengajar. Tentunya, inipun akan berdampak pada sikap siswa dalam belajarnya. Itulah yang disebut Pygmalion Effect, suatu fenomena yang mengungkapkan bahwa apa yang kita pikirkan atau harapkan agar terjadi seringkali akan betul – betul menjadi kenyataan.

Apa yang Harus dilakukan?
Kita, para guru, hendaknya selalu berpikir positif tentang siswa siswi kita. katakan dengan jelas pada siswa anda bahwa anda yakin mereka akan dapat berprestasi jauh lebih baik lagi. Yakinkan mereka bahwa anda percaya pada kemampuan mereka, bahwa mereka memiliki kemampuan yang luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk meraih prestasi yang baik. Sampaikan pesan ini dengan jelas hingga seluruh siswa anda mengetahui dengan pasti harapan positif anda, dan sampaikan dengan tulus dari hati anda.

Dengan demikian, mereka akan merasa lebih dihargai dan bersedia memberikan kemampuan maksimalnya dalam bekerja bagi anda!- Berikan ekspektasi yang realistis. Sesuaikan ekspektasi anda dengan kemampuan siswa ditiap bagian. Ini adalah langkah yang cukup sulit karena bila anda menetapkan standar yang terlalu tinggi, anda akan dianggap tidak realistis.

Tapi bila anda memberikan ekspektasi yang terlalu rendah, itu sama saja dengan tidak memanfaatkan potensi siswa yang ada dengan maksimal. Dalam hal ini, anda harus pandai – pandai mengevaluasi hasil kerja siswa anda dan menilai potensi apa saja yang sekiranya masih dapat dikembangkan dari kemampuan siswa tersebut. Sampaikan ekspektasi realistis anda ini pada siswa yang anda didik.

Dengan demikian, mereka akan lebih termotivasi lagi karena mengetahui ada tujuan nyata yang bisa diraih bersama – sama. Berikan yang terbaik dari diri anda pula sebagai seorang pendidik, tanggung jawab terbesar dan terberat atas kinerja tim ada di pundak anda. Maka, anda juga harus yakin pada diri anda sendiri. Anda juga harus memberikan yang terbaik yang bisa anda lakukan dalam pekerjaan. Sikap anda yang penuh percaya diri dan memberikan yang terbaik ini akan dilihat pula oleh siswa-siswi dan memacu pula semangat mereka untuk selalu melakukan yang terbaik.

Kita tahu bahwa dalam sejarah pendidikannya Thomas Alfa Edison dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu belajar dengan baik. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas oleh gurunya dan dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga dengan Charles Darwin yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik pohon dan mengamati makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas mendengarkan guru yang sedang mengajar. Namun, mereka semua tercatat dalam sejarah karena penemuan-penemuannya.

Contoh-contoh diatas menunjukkan beberapa contoh bagaimana guru kurang mampu mengakomodasi berbagai macam bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya. Guru sering terjebak pada sebuah anggapan bahwa semua siswa memiliki potensi, bakat, gaya belajar dan tingkat kepandaian yang sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani dengan metode pembelajaran yang seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak merasa jenuh dan terhambat kreatifitasnya.

Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode dan strategi pembelajaran yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru mengajar yang monoton. Dari sebab-sebab di atas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.

About sainsmediaku
Guru IPA MTs. Negeri Slawi Kab. Tegal, Lahir di Tegal, 20 Mei 1967

One Response to Berpikir Positif Tentang Siswa Kita

  1. azamroni says:

    Good …. Tukar link dong ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: